Pages

Minggu, 18 September 2011

lama sudah berlari,
hingga tak sadar apa yang tertinggal,
bukan saatnya aku kembali

yang terpenting aku menyadari.
dan saatnya aku berjalan hati - hati.

Jumat, 18 Februari 2011

[R]EVOLUSI HIJAU


Bumi adalah rumah kita. Semua keperluan dan kebutuhan kita untuk hidup telah disediakan oleh Bumi kita tercinta. Dimulai dari hal seperti baju yang kita pakai setiap hari, segala makanan yang kita konsumsi, air yang selalu kita butuhkan, hingga hal yang sangat vital bagi kita untuk hidup seperti udara yang kita hirup setiap detiknya.

Sayangnya semua yang tersedia di Bumi juga memiliki keterbatasan, yang suatu saat jika kita tidak mengolah, menjaga, melindungi.. akan rusak, hilang, bahkan punah. Pakaian  yang kita pakai mungkin akan langka jika kita tidak menjaga tanah kita untuk menumbuhkan pohon kapas yang menjadi bahannya. Segala makanan yang kita butuhkan tiap saat, akan lenyap jika jika tidak mengolah dengan baik tumbuh – tumbuhan, ikan, dan hewan lainnya untuk bisa hidup dan berkembang biak. Serta Air bersih yang kita butuhkan untuk badan kita yang terdiri dari 73% air ini akan langka jika kita tidak tau bagaimana cara menghemat ketersediaanya. Bahkan sesak akan terasa oleh kita jika udara disekitar kita ini terpolusi oleh aktivitas kita sendiri.

Semua memang tidak terlihat terbatas saat ini, tapi ketahuilah semua itu akan sedikit demi sedikt berangsur berkurang keberadaannya. 

Lantas siapa yang bertanggung jawab menjaga  semua hal ini? Ya, manusia. Seluruh manusia yang hidup di dunia ini. Yang bertanggung jawab untuk melestarikan semua kekayaan yang ada di bumi ini untuk tetap ada. Semua orang harus mulai menyadari, merasakan memiliki kepentingan untuk mulai bertindak menyelamatkan apa yang manusia punya. Termasuk diri kita. Kita juga harus bertindak menjaga bumi kita, setidaknya dengan hal – hal yang sepele yang biasa kita lakukan. Dimulai dari kebiasaan – kebiasaan kecil dalam kehidupan kita.

Bukan evolusi penghijauan bumi lagi yang kita akan lakukan, namun revolusi. Kenapa? Karena perubahan diri kita yang dimulai dari sekarang, dari saat ini, yang akan mengubah masa depan kita menjadi lebih baik untuk diri kita sendiri.

Lakukanlah [R]evolusi hijau sekarang.

Begitukah cara mencintai? ( Belia Muda )

Hari ini, dalam perjalananku ke suatu tempat, aku berkendaraan dengan angkutan umum salah satu jurusan di Bandung. Saat itu hujan, kurapihkan payungku yang terbuka lebar agar dapat dilipat dan kubawa masuk naik angkot.

Saat kududuk, aku terbiasa memperhatikan keadaan di dalam angkot tersebut, Entah kenapa.  Terdapat seorang ibu dan anak perempuan remajanya di depanku menatap ke arah depan kaca mobil di hadapan supir. Penglihatanku terdiam beberapa detik pada dua sosok pasangan remaja muda, si lelaki merangkul pundak si gadis sembari memilin – milin rambut si gadis. Si gadispun tengah bersandar di bahu lelaki layaknya seorang yang nyaman berbaring dalam sebuah bantal empuk. Hanya sekelibat kulihat, dan mataku tertuju mencari arah lain yang lebih baik kupandang. Saat itu aku hanya duduk snediri pada barisan kiran tempat duduk di angkot.

Selagi mataku mencari pengalihan lain, senda gurau mereka menghampiri telingaku, percakapannya pun tak begitu jelas kudengar, ah.. untuk apa pula aku mendengar. Namun sungguh tak nyaman diri ini, walau tak kulihat langsung sendiri gerak gerik mereka, yang kutau setelah beberapa menit berlalu kubawa keingintahuanku dan menjatuhkan pilihan untuk sekali seper - sekian detik untuk menatap mereka lagi.

Yang kulihat malah si lelaki sedang menempelkan hidungnya ke pipi si gadis dan kemudian tertawa – tawa kecil untuk menghentikan mimik cemberut si gadis, dan si gadis? Yang tadinya cemberut, menjadi tersenyum malu dan menambah mimic sebalnya sambil memanyunkan beberapa mili meter bibirnya yang mungil. Masih dalam kondisi yang sama, masih dalam rangkulan si lelaki, si gadis mengeluarkan kata tak jelas dan tak berarti dari mulutnya (namun kuartikan ada kesenangan terselip dari manyun bibirnya).

Menyesal, ku lihat ini semua. Sungguh heran, dan terganggu diriku atas sikap mereka. Siapa mereka? Dari mana asal mereka? Kenal pun aku tidak. Namun sungguh kusayangkan, dilihat dari postur dan garis muka mereka, tampak hanya dua orang anak remaja yang masih sangat muda. Yang kukesalkan, untuk apa mereka melakukan semua sikap itu di depan umum? Ya, kemesraan, itu yang terlihat. Sangat mesra dan intim. Sangat disayangkan, muda belia seperti itu, memiliki kelakuan seperti itu. Bermesraan di fasilitas umum, apa yang mereka pikirkan? Apa mereka tidak merasa, bahwa kami, aku, ibu – ibu itu beserta anaknya merasa terganggu? Sehingga kami terkadang menatap sekilas memberikan gambaran muka tak mengenakkan pada mereka. Entah mereka tahu atau tidak.

“Cinta, Cinta itu buta.” Itu yang dikatakan temanku saat aku ceritakan kisah ini padanya. Betapa bodohnya si gadis mau merelakan dan menyerahkan penggambaran image dia sebagai perempuan dengan keadaannya yang seperti itu, untuk dinilai olehku sebagai hal yang negatif. Bukankah seharusnya ia tahu cara bersikap dan menjaga dirinya agar tetap dinilai terpuji oleh setiap orang? Betapa naifnya lelaki itu, mengartikan kasih sayang yang dalam benaknya indah dan berwarna  warni, namun kenyataannya dia sama sekali sedang tidak melindungi gadis yang ia puja.

Indah bagi mereka, namun yang kulihat hanyalah seorang lelaki yang tengah mendapat kesempatan untuk membuktikan desiran nafsunya dengan menggunakan keindahan bahasa cinta pada keluguan si gadis. Dan yang kulihat adalah keluguan si gadis mengartikan kasih sayang sang lelaki dengan menawarkan naluri keperempuanannya untuk merasakan manja dan belaian lelaki yang ia artikan itu cinta. Ah, betapa polosnya mereka mengartikan cinta. Cinta yang indah di benak mereka, yang mereka ekspresikan dalam perbuatan – perbuatan yang tak menganal batas waktu dan tempat manapun.

“Biarlah mereka begitu, mungkin mereka memang telah mengikat janji setia dalam ikatan pernikahan..” Bicaraku dalam hati. Ya mungkin, walaupun begitu, aku masih tak paham soal alasan sikap dan perbuatan mereka tunjukkan dalam tempat umum itu. Yang jelas aku masih miris dan tidak membenarkan jika memang cinta terungkap dengan keadaan seperti mereka. Sangat tak kuhargai sikap mereka.

Jumat, 10 Desember 2010

Rasa Takut

Napoleon Hills menulis bahwa rasa takut dapat menjadi kanker dalam hidup kita jika kita membiarkan menguasai diri Kita:

“Rasa takut dapat melumpuhkan nalar Anda, menghancurkan kemampuanuntuk berimajinasi, membunuh kemandirian Anda, menghancurkan antusiasme Anda, membuat Anda gentar untuk mengambil inisiatif, membuat Anda tidak yakin dengan tujuan Anda, membuat menunda – nunda pekerjaan, membuat Anda tidak dapat menguasai diri. Rasa takut juga dapat menghilangkan pesona dari kepribadian seseorang, menghancurkan kemungkinan untuk berpikir secara akurat,  dan mengalihkan konsentrasi dari tujuan Anda . Selain itu, rasa takut juga dapat menguasai kegigihan, mengubah kekuatan menjadi ketiadaan, dan mengundang kegagalan dalam bentuk apapun. Rasa takut dapat membunuh cinta dan menghancurkan emosi yang kita rasakan dalam hati, merusak persahabatan, dan mengundang malapetaka dalam bentuk apa pun. Rasa takut membuat kita sulit tidur, sedih, dan tidak bahagia. Semua ini terjadi di dunia yang memiliki segala sesuatunya tanpa ada rintangan, kecuali kurangnya kemapuan untuk menentukan tujuan yang pasti.”
Sudahkah Kita menang atas rasa takut kita?

Tanggung Jawab = Responsibility

Hingga sekarang ini, kemungkinan besar orang memiliki persepsi yang sama dalam pemahaman arti kata “Tanggung Jawab”. Bahkan Saya sendiri pun merasa bahwa pemaknaan dari kata Tanggung Jawab itu adalah sesuatu yang memberatkan diri kita. Pemahaman saya mengenai tanggung jawab adalah beban, sesuatu yang kita bawa dan memberi tekanan.

Pemahaman tersebut saya peroleh dari label kata dari “Tanggung Jawab” itu sendiri. “Tanggung” yang menurut saya adalah sesuatu yang harus dipangku, dibawa, suatu beban, atau semacamnya. Sedangkan “Jawab” adalah sesuatu yang mendesak untuk dipikirkan, dipenuhi dan diberikan timbal baliknya. Entah dari mana pemikiran saya itu berasal tetapi paradigma yang terbentuk dari kata Tanggung Jawab, memang terasa seperti itu.

Masih teringat jika kita ditanya seperti ini, “Kamu, kemari, apa kamu siap bertanggung jawab atas semua ini?”. Maka yang terlintas bahwa saya sedang ditegur, ditekan untuk melakukan suatu hal yang belum tentu saya siap terima. Dan reaksi kita yang muncul pada saat ditekan atau dalam kondisi dibawah tekanan adalah menjadi cemas, dan kemudian bersiap – siap untuk lari dan menjauhkan diri dari tekanan tersebut. Sulit untuk dipungkiri, alam bawah sadar kita membentuk sikap atau bertindak seperti itu.

Menurut Brian dan Sangeeta Mayne dalam “Life Mapping”, kebanyakan orang berpendapat bahwa tanggung jawab berarti “kewajiban”.  Nyatanya, teguran, tekanan, ataupun kewajiban merupakan label yang sering dikaitkan dengan “Taggung Jawab”. Menariknya, kata – kata tersebut memunculkan pengalaman dan perasaan terbebani dan dibatasi  -- seolah – olah kita tidak punya pilihan lain. Ini disebut sindrom “wajib”.

Tanggung Jawab dalam bahasa Inggris adalah Responsibility, dimana berasal dari kata Respons, yang secara harfiah berarti kemampuan untuk memilih respons (The Ability to Choose Your Response).

Kita, manusia, mampu untuk memilih respons, kepada setiap hal – hal yang terjadi dalam hidup kita. Inilah kebebasan tertingi kita sebagai manusia. Dalam mengaktualisasikan diri, kita hidup dengan kemampuan tertinggi kita yaitu memilih, menentukan langkah, menjadi penentu bagi diri kita sendiri, yang merupakan hak paling dasar pada diri kita.

Kita dihadapkan dengan situasi – situasi yang terjadi pada diri kita sendiri, yang akhirnya diatur untuk kembali pada “Tanggung Jawab” kita kepada hidup kita masing – masing. Namun kesalahan yang umumnya terjadi, kita merasa frustasi atau terbebani dengan situasi – situasi tersebut. Kita tidak menyadari bahwa itu adalah hak kita untuk memilih respon yang terbaik terhadap situasi – situasi hidup kita sendiri. Entah situasi yang terjadi adalah baik atau buruk, Kita selalu diberikan pilihan untuk memberikan respons yang terbaik.

Kita mungkin tidak selalu bisa memenuhi apa yang diharapkan dalam hidup kita, karena pada dasarnya, situasi dan kondisi yang terjadi dalam hidup tidak dapat diatur secara keseluruhan oleh diri kita. Akan tetapi, jika kita memahami siklus aktualisasi, kita bisa bertindak berdasarkan umpan balik (feed back) dari setiap situasi – situasi hidup yang ada dan memilih respons yang berbeda. Dengan kita bersikap untuk memilih respons yang baik atau positif terhadap situasi – situasi hidup tersebut, maka akan memberikan hasil – hasil yang baik atau positif pula. Berbeda hal, jika kita sudah memberi label “Tanggung jawab” tadi dengan tekanan dan beban, kemungkinan perasaan untuk lari dan mejauhkan diri dari tekanan tersebut akan ada, setidaknya pada saat kita menjalani “Tanggung Jawab” tersebut kita membawa perasaan negatif yang memberikan dampak “hasil yang kurang maksimal”, terlebih ada ketidak-puasan dalam diri kita akan apa yang kita jalani karena terseret rasa terbebani tadi.

Keseluruhan siklus ini merupakan bagian dari proses pertumbuhan dan pembelajaran alamiah kita. Tanggung Jawab – kemampuan memilih respons kita – artinya, kita benar – benar bebas untuk belajar dari semua kesuksesan dan kegagalan kita, dari hal – hal yang berjalan baik maupun hal – hal yang berjalan buruk.

So, siapkah kita untuk ber-tanggung jawab (untuk hidup dan diri kita sendiri)?

Senin, 29 November 2010

Yang Penting Cara Datangnya atau Orangnya?

Diambil dari sebuah buku "Provokasi 2: MANTRA" oleh Prasetya M. Brata. And the story is....


"Pak, minta pin BB-nya dong...", begitu pesan seorang teman di inbox facebook.
Setelah saya memberikan nomor PIN, tak lama kemudian kami pun terhubung di Blackberry Messenger. Ia memulai dialognya. Namanya Eka.

Eka: "Saya sedang down, Pak. Boleh curhat?"
Saya: "Silahkan Eka"
Eka: "Saya sering kali mendengarkan keluh kesah orang - orang yang bahkan baru saya kenal. Saya sering memberi advice kepada mereka. Tapi terkadang jiwa saya berontak. Kepada siapa saya harus bercerita, jika untuk mendapatkan pendamping hidup saja saya harus diatur orang tua?".

Saya tercenung sejenak. Sebuah kisah klasik.
Saya: "Harus diatur? Begitukah kata orang tua?"
Eka: "Ya tidak bicara secara langsung,.. Tapi kata - katanya mengarah pada hal itu dan menjadi beban pribadi saya."
Saya: "Terus, Apa maksud orang tua Eka melakukan hal seperti itu?"
Eka: "Ya mencari yang terbaik untuk anaknya..."
Saya: "Eka mau mendapat yang terbaik?"
Eka: "Tentu Pak"
Saya: "Lantas apa bedanya dicarikan orang tua sama dicomblangin teman? yang penting kan bagaimana calonnya toh? bukan cara mendatangkan si calon kan?"
Eka: "Hmmmmh..."
Saya: "Kalau nanti calonnya gak cocok, tinggal bilang saja ke orang tua. Bilang, Tidak cocok. Orang tua mungkin juga tidak mau kasih calon yang nggak bikin bahagia anaknya. Kalaupun nanti Eka menemukan calon sendiri, kan tinggal Eka dan sang calon melakukan yang baik dan pas kepada orang tua, sehingga mereka menyimpulkan calon Eka layak dan pantas menjadi pendamping anaknya."
Eka: "Iya sih Pak.."
Saya: "Apakah calon yang dicarikan oran tua selalu buruk?"
Eka: "Ya nggak sih..."

Untuk menguatkan bingkai berfikir ini melalui buktinya, saya merujukkan kepada pengalaman saya sebagai fakta.

Saya: "Saya sendiri dijodohin sama temen, hehehe... habis cari sendiri gak dapet - dapet. Begitu dicarikan dan ketemu, eh, malah jadi istri yang membanggakan sampai sekarang."
Saya: "Terus calon pasangan hidupnya sudah ketemu? Orang tua Eka sudah berhasil menemukannya?"
Eka: "Belummmm... Heheeeee..."
Saya: "Lhaaa, kesusahan yang belum terjadi dimasa depan kok sudah dipanjar sekarang? Eka mengizinkan diri sendiri menderita oleh apa yang belum terjadi?"

- fin -

Jumat, 26 November 2010

Dunia Imaaaajinasii...

"I am enough of an artist to draw freely upon my imagination. Imagination is more important than knowledge. Knowledge is limited. Imagination encircles the world."
Albert Einstein


Dunia bisa seperti sekarang ini, ya karena orang - orang berimajinasi. Jadi siapa yang melarang kita berimajinasi?? justru dia yang suatu saat akan mati. Hidup berkembang, melalui apa yang ada dari otak kita, dari sebentuk kecil pemikiran dan berkembang menjadi suatu gambaran namun kemudian dipadukan dengan ilmu pengetahuan. Dari situ semua terjadi..

Jadi mari berimajinasi... hahay (tapi bukan ngelamun yoy). :-D